Sabtu, Juli 11, 2026

Buku Fiksi Bertema Kerajaan, Perjuangan, dan Cinta Angkat Nilai-Nilai Budaya Melayu sebagai Warisan Peradaban

Buku Fiksi Bertema Kerajaan, Perjuangan, dan Cinta Angkat Nilai-Nilai Budaya Melayu sebagai Warisan Peradaban

INTELKRIMSUS.COM —Pontianak, 11 Juli 2026 – Upaya pelestarian budaya tidak hanya dilakukan melalui penelitian dan dokumentasi sejarah, tetapi juga melalui karya sastra. Hal tersebut tercermin dalam penyusunan sebuah buku fiksi setebal sekitar 30 halaman yang memadukan kisah kerajaan, perjuangan, dan cinta dengan penguatan unsur budaya Melayu, termasuk penggunaan pantun serta bahasa Melayu klasik sebagai bagian dari identitas naratif.

Karya ini menghadirkan latar Kerajaan Seri Akcaya melalui tokoh Sultan Jalaluddin Akcaya, Putri Nirmala, dan Panglima Nadhim. Meskipun merupakan karya fiksi, cerita tersebut dibangun dengan pendekatan yang mengedepankan nilai-nilai universal, seperti keberanian, kesetiaan, kehormatan, pengabdian kepada negeri, serta pergulatan antara cinta dan tanggung jawab terhadap adat dan martabat kerajaan.

Secara akademis, sastra memiliki peran strategis sebagai media transmisi budaya. Penggunaan pantun, ungkapan klasik, serta struktur bahasa Melayu lama dalam karya ini merupakan bentuk revitalisasi warisan sastra Melayu yang memiliki nilai historis, linguistik, dan filosofis. Pendekatan tersebut diharapkan mampu memperkenalkan kembali kekayaan budaya Melayu kepada generasi muda melalui media yang lebih mudah diterima dan dinikmati.

Panglima Besar Laskar Pemuda Melayu, Adhi Black, menyatakan dukungan penuh terhadap rencana penerbitan buku tersebut. Menurutnya, karya sastra merupakan instrumen penting dalam menjaga keberlanjutan identitas budaya di tengah perkembangan zaman.

«”Sastra adalah jembatan antara sejarah, budaya, dan generasi masa depan. Melalui karya seperti ini, nilai-nilai luhur Melayu dapat terus hidup dan diwariskan. Melayu bukan sekadar identitas etnis, tetapi sebuah peradaban yang kaya akan adab, ilmu pengetahuan, seni, dan falsafah kehidupan. Warisan tersebut tidak boleh hilang ditelan zaman.”»

Lebih lanjut, ia menilai bahwa penguatan literasi berbasis budaya lokal merupakan salah satu langkah strategis dalam memperkokoh karakter bangsa sekaligus memperkaya khazanah sastra Indonesia. Kehadiran karya fiksi yang mengangkat nilai-nilai Melayu diharapkan mampu menjadi referensi alternatif dalam pengembangan literasi budaya, khususnya bagi kalangan pelajar, mahasiswa, dan masyarakat umum.

Penerbitan buku ini diharapkan tidak hanya menjadi kontribusi dalam dunia sastra, tetapi juga menjadi bagian dari upaya pelestarian nilai-nilai budaya Melayu yang memiliki posisi penting dalam sejarah dan perkembangan peradaban Nusantara. Dengan demikian, karya sastra dapat berfungsi sebagai media edukasi, refleksi, dan penguatan identitas budaya yang tetap relevan di era modern.

“Takkan Melayu Hilang di Bumi” bukan sekadar semboyan, melainkan komitmen bersama untuk menjaga, mengembangkan, dan mewariskan khazanah budaya Melayu kepada generasi yang akan datang melalui pendidikan, penelitian, dan karya sastra.

Tim : Humas DPP LPM Kalbar

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments