Skandal Desa Sayan Jaya Meledak: Pupuk Subsidi Diduga Disedot untuk Sawit Pribadi — Kades & Menantu Diisukan Jadi Aktor PETI, Publik Tuding APH Jangan Tutup Mata!
INTELKRIMSUS Com — MELAWI ,Desa Sayan Jaya 9 Desember 2025 Kalimantan Barat , Aroma penyimpangan yang selama ini hanya beredar sebagai bisik-bisik warga kini meledak menjadi skandal besar yang menyeret nama Kepala Desa Sayan Jaya dan menantunya. Dugaan penyalahgunaan pupuk subsidi hingga isu keterlibatan dalam Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) menempatkan keduanya dalam sorotan paling tajam masyarakat.
Warga mengungkap, oknum kades menanam jagung di lahan pribadinya. Namun penanaman itu dinilai sekadar kedok untuk mengakses jatah pupuk subsidi. Jagung hanya dijadikan “panggung”, sementara pupuk bersubsidi yang sejatinya diperuntukkan bagi petani kecil diduga dialihkan untuk menyuburkan kebun sawit pribadi milik sang kades.
“Ini bukan sekadar akal-akalan. Kalau benar terjadi, ini bentuk pengkhianatan terhadap petani,” ujar salah satu warga yang geram.
Belum selesai persoalan itu, muncul isu jauh lebih serius: kades dan menantunya diisukan aktif sebagai pelaku PETI. Aktivitas yang menghancurkan lingkungan, mencemari sungai, dan merampas pendapatan negara itu diduga dijalankan tanpa takut hukum—karena pelakunya justru mereka yang memegang kekuasaan di tingkat desa.
Ironi yang memukul telinga warga:
rakyat kecil salah sedikit langsung diproses, tetapi ketika pejabat desa disebut-sebut bermain di wilayah terlarang, banyak pihak seakan membisu.
Seorang tokoh desa menegaskan, “Kalau ini dibiarkan, berarti ada yang sengaja tutup mata.”
Publik Mendesak: APH Jangan Tutup Mata
Suara masyarakat kini berubah menjadi desakan tegas. Publik menilai kasus ini tidak bisa dibiarkan menguap seperti banyak skandal lain di daerah. Aparat Penegak Hukum (APH) diminta berhenti berpura-pura tidak melihat.
Isu penyelewengan pupuk subsidi hingga dugaan keterlibatan dalam PETI harus diusut tuntas. Tidak boleh ada yang kebal hukum hanya karena menduduki jabatan atau memiliki hubungan keluarga dalam lingkar kekuasaan.
“Masyarakat ingin bukti bahwa hukum masih hidup. Jangan cuma tegas ke rakyat kecil, tapi mendadak tumpul kalau pelakunya pejabat,” tegas warga lainnya.
Kasus ini menjadi cermin buram:
pengkhianatan terhadap amanah bisa muncul dari posisi paling dekat dengan rakyat — dari desa itu sendiri.
Kini publik menunggu:
Apakah APH berani membongkar lingkaran kekuasaan di Desa Sayan Jaya?
Ataukah skandal ini kembali tenggelam dalam senyap seperti banyak kasus lain yang tak pernah tersentuh?
Tim: Investigasi
